<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>dalharindo</title>
	<atom:link href="http://dalharindo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dalharindo.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 01:07:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dalharindo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>dalharindo</title>
		<link>http://dalharindo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dalharindo.wordpress.com/osd.xml" title="dalharindo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dalharindo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>STRATEGI PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN</title>
		<link>http://dalharindo.wordpress.com/2010/07/06/strategi-pengembangan-ilmu-pengetahuan/</link>
		<comments>http://dalharindo.wordpress.com/2010/07/06/strategi-pengembangan-ilmu-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 04:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dalharindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dalharindo.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar &#160; Ilmu adalah pengetahuan yang rasional dan didukung dengan bukti yang empiris dan memiliki dua bentuk yang menjadi ciri khasnya yaitu paradigma dan metode. Dalam hal paradigma dan metode ini ilmu selalu berorientasi pada logika dan  berkaitan dengan  cara berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah selalu berhubungan dengan teknik, urutan/alur ilmiah,  metode, pendekatan, dan lain-lain yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=14&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong>Ilmu adalah pengetahuan yang rasional dan didukung dengan bukti yang empiris dan memiliki dua bentuk yang menjadi ciri khasnya yaitu paradigma dan metode. Dalam hal paradigma dan metode ini ilmu selalu berorientasi pada logika dan  berkaitan dengan  cara berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah selalu berhubungan dengan teknik, urutan/alur ilmiah,  metode, pendekatan, dan lain-lain yang berkaitan dengan menarik simpulan deduktif dan induktif.</p>
<p><span id="more-14"></span>Tidak dapat disangkal lagi bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang secara  progresif dan cepat. Perkembangan suatu disiplin ilmu ternyata melibatkan disiplin ilmu yang lain. Hal ini menandakan bahwa antardisiplin ilmu adanya saling kait dan saling memerlukan. Hal ini dapat kita lihat dari contoh kecil yang ada di sekitar kita; suatu hasil penemuan bidang teknologi seperti penemuan computer semakin lama semakin berkembang dan dalam hal pemasaran hasil teknologi ini perlu disiplin ilmu yang lain seperti ilmu ekonomi, dan juga pada saat pemasaran juga kita perlu mengetahui sosial budaya masyarakat target pemasaran. Hal ini membuktikan bahwa suatu disiplin ilmu tidak dapat berdiri sendiri. Selaras dengan itu, Koento Wibisono (1984) mengatakan adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.</p>
<p>Dan perlu kita ketahui bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh pemikiran filsafat barat  sehingga kadangkala hasil sebuah pengembangan teori atau produk dari aplikasi teori ilmu pengetahuan  belum dapat diterima oleh semua kalangan.</p>
<p>Dari kedua paragraf di atas, kita dapat menarik tiga bagian berbeda yang berperan, yaitu penemu, pengembang ilmu, innovator yang istilah-istilah tersebut bermuara pada  kata  pemikir, yang kedua adalah produsen dari hasil penemuan para inovator; dan yang ketiga adalah penikmat hasil temuan, pengguna, atau  konsumen. Ketiga bagian tersebut sama-sama berkaitan dalam hal pemanfaatan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Oleh karena ada tiga bagian yang berbeda, ditambah dengan latar belakang para pengembang ilmu pengetahuan, produsen, dan pengguna hasil temuan yang berbeda, memunculkan adanya kenyataan bahwa sebuah perkembangan ilmu pengetahuan belum tentu dapat diterima oleh semua kalangan. Padahal menurut Wahyu, dalam makalahnya dikatakan ilmu mempunyai beberapa kegunaan yaitu</p>
<ol>
<li>sebagai alat eksplanasi, yaitu ilmu digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala</li>
<li>sebagai alat peramal, yaitu ilmu dapat digunakan sebagai alat untuk meramal penyebab terjadinya gejala-gejala tersebut,</li>
<li>sebagai alat control, yaitu ilmu dapat digunakan sebagai pencegah terjadinya gejala-gejala yang tidak diharapkan atau gejala yang memang diharapkan.</li>
</ol>
<p>Dari uraian di atas , perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu memikirkan strategi yang tepat  agar hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dapat diterima dan bermanfaat bagi semua pihak.  Inilah permasalahan yang akan dibahas oleh penulis. Bagaimana strategi yang tepat untuk pengembangan ilmu pengetahuan?</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Strategi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada empat pengertian, namun pengertian yang keempat yang penulis rasa sesuai dengan konteks pembahasan dalam makalah ini yaitu rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.</p>
<p>Berbicara tentang strategi pengembangan ilmu ini Koento Wibisono (1982:13) mengelompokkan menjadi 3 macam pendapat:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu berkembang dalam otonomi dan tetutup, dalam arti pengaruh konteks dibatasi atau bahkan disingkirkan. “<em>Science for sake of science only”</em> merupakan semboyan yang didengungkan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu lebur dalam konteks, tidak hanya memberikan refleksi, bahkan juga memberi justifikasi. Dengan ini ilmu cendrung memasuki kawasan untuk menjadikan dirinya sebagai ideologi.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu dan konteks saling meresapi dan saling memberi pengaruh untuk menjaga agar dirinya beserta temuan-temuannya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dan aktualitasnya. “<em>Science for sake of human progress</em>” adalah pendiriannya.</p>
<p>Dari ketiga strategi di atas , semua tepat apabila disesuaikan dengan  kondisi dan situasi di mana ilmu pengetahuan itu berada. Artinya, strategi pernbangunan ilmu pengetahuan (dan teknologi) tidak dapat dilepaskan dari garis politik pemba­ngunan suatu daerah. Hal tersebut dapat dijabar bahwa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kita harus mempertimbangkan dua hal yaitu visi dan falsafah/ideologi daerah tersebut serta visi dan praksis (praktik dalam bidang kehidupan dan kegiatan praktis manusia).</p>
<p>Namun, dari ketiga pendapat ini  pendapat yang  ketiga yang mampu membangkitkan gairah keilmuan, karena strategi yang digunakan punya  hubungan yang sangat erat  untuk memperkaya muatan-muatan  keilmuan sesuai dengan kemajuan  dan kekinian ilmu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat  sehingga dari sini tak dapat diletakkan urgensi untuk mengembangkan ilmu yang tidak sekedar teori-teori belaka, tapi juga realisasi teori dalam praktik dan hasil-hasil yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Artinya di sini bahwa ada nilai-nilai yang menjadi muatan suatu ilmu bisa berkembang dan bermanfaat.</p>
<p>Selain itu, Wahyu dalam makalahnya mengatakan bahwa ilmu harus berada di atas pusat kekuasaan pemerintah karena ilmu harus mengabdi pada kebaikan, kemajuan, atau kebahagiaan umat manusia. Ditambahkan pula, ilmu di Indonesia tidak bebas nilai, melainkan harus berdasarkan metafisis, epistimologi, dan aksiologi; ilmu harus berdasarkan filsafat; dan ilmu dalam perkembangangannya harus berdimensi religious.</p>
<p>Dengan demikian boleh dikatakan, selain ketiga strategi dan bagaimana strtegi ilmu harus berkembang  di atas,  perkembangan ilmu pengetahuan juga harus mempertimbangkan bahkan harus mempunyai tanggung jawab sosial sehingga  perkembangan ilmu pengetahuan tidak secara membabi buta tanpa mempertimbangkan idiologi, hukum, adat istiadat, nilai kearifan lokal, dan lain-lain yang ada di suatu daerah di mana ilmu pengetahuan itu berkembang. Seperti pepatah mengatakan <strong><em>dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung jua.</em></strong></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari uraian tersebut di atas tampak jelas bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak diatur dengan nilai justru dapat membawa hal yang merugikan bagi pengguna ilmu pengetahuan tersebut.  Oleh karena itulah dalam perkembangannya ilmu pengetahuan perlu memperhatikan empat strategi yaitu ilmu berkembang dalam otonomi dan tetutup, ilmu lebur dalam konteks, ilmu dan konteks saling meresapi dan saling memberi pengaruh untuk menjaga agar dirinya beserta temuan-temuannya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dan aktualitasnya, dan perkembangan ilmu pengetahuan juga harus mempertimbangkan bahkan harus di atas kekuasaan pemerintah, tidak bebas nilai, berdasarkan filsafat, dan mempunyai tanggung jawab sosial.</p>
<p>selesai</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Bertens, K., 1987., <em>“Panorama Filsafat Modern”</em>,Gramedia: Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.</p>
<p>Koento Wibisono S. dkk., 1997., <em>“Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu </em></p>
<p><em> Pengetahuan</em>”, Intan Pariwara:Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.</p>
<p>Koento Wibisono S., 1984., <em>“Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Aktualitasnya Dalam Upaya </em></p>
<p><em> Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”,</em>Fakultas Pasca Sarjana</p>
<p><em> </em>UGM Yogyakarta p.3, 14-16.</p>
<p>Burhanuddin,Salam, 1995. <em>Pengantar Filsafat</em>, Jakarta: Bumi Aksara,<br />
Jujun S. Sumiasumantri (ed), 1985. <em>Ilmu dalam Prespektif</em>, Jakarta: Gramedia, cet. 6</p>
<p>Wahyu, 2005. <em>Strategi Pengembangan Ilmu di Indonesia(kumpilan makalah)</em>. Banjarmasin:</p>
<p>Universitas Lambung Mangkurat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dalharindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dalharindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dalharindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dalharindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dalharindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dalharindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dalharindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dalharindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dalharindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dalharindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dalharindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dalharindo.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dalharindo.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dalharindo.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=14&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dalharindo.wordpress.com/2010/07/06/strategi-pengembangan-ilmu-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9571f295c1b06c611c78e99a2ae26393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dalharindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://dalharindo.wordpress.com/2010/01/27/12/</link>
		<comments>http://dalharindo.wordpress.com/2010/01/27/12/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 14:19:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dalharindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dalharindo.wordpress.com/2010/01/27/12/</guid>
		<description><![CDATA[STRATEGI PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=12&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://dalharindo.wordpress.com/?attachment_id=11' rel='attachment wp-att-11'>STRATEGI PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dalharindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dalharindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dalharindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dalharindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dalharindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dalharindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dalharindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dalharindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dalharindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dalharindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dalharindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dalharindo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dalharindo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dalharindo.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=12&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dalharindo.wordpress.com/2010/01/27/12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9571f295c1b06c611c78e99a2ae26393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dalharindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGAJARAN SASTRA PUISI DI SEKOLAH *</title>
		<link>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/30/pengajaran-sastra-puisi-di-sekolah/</link>
		<comments>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/30/pengajaran-sastra-puisi-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dalharindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/30/pengajaran-sastra-puisi-di-sekolah/</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 2008 Agustus 26 pengajaran sastra puisi Oleh: M. Amir Tohar** Berbicara soal pengajaran sastra di sekolah maka tujuan yang harus dicapai ada-lah siswa mampu menikmati, menghayati, memamahi, dan memanfaatkan karya sastra; untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkat-kan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Di samping itu, secara khusus, siswa menguasai dan membedakan antara karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=9&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Selasa, 2008 Agustus 26</h2>
<p><a name="4759871908558438506"></a></p>
<h3><a href="http://amingaminoedhin.blogspot.com/2008/08/makalah-ceramah-sastra.html">pengajaran sastra puisi</a></h3>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#6600cc;"><strong></strong></span><a name="_ftnref1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn1"><span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#6600cc;"><strong><br />
</strong></span></a><span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#6600cc;"><strong> </strong></span></div>
<div>
<span style="font-size:85%;color:#009900;"><em><strong>Oleh: M. Amir Tohar</strong></em></span><a name="_ftnref2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn2"><span style="font-size:85%;"><em>**</em></span></a></div>
<p><span style="font-size:85%;"> </span></p>
<div><span style="font-size:85%;">Berbicara soal pengajaran sastra di sekolah maka tujuan yang harus dicapai ada-lah siswa mampu menikmati, menghayati, memamahi, dan memanfaatkan karya sastra; untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkat-kan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Di samping itu, secara khusus, siswa menguasai dan membedakan antara karya sastra berbentuk prosa, naskah drama, dan puisi. (B.Rahmanto, 2000:654).<br />
Berangkat dari persoalan ini, maka pengajaran sastra Indonesia bertujuan sangat mulia, dan sangatlah penting bagi para siswa. Persoalannya sekarang bahwa pengajaran sastra Indonesia di sekolah, berada (atau dimasukkan) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga, kemungkinan besar, pelajaran sastra tidak begitu banyak diajarkan kepada siswa, karena lebih menekankan pelajaran tata bahasa. Lebih lagi, apabila gurunya tidak suka akan sastra maka pelajaran sastra akan dilewatinya. Sungguh ironis, tentunya! Padahal tujuan pengajaran sastra sangat mulia seperti yang saya sebutkan di muka.<br />
Dalam pengajaran sastra, terbagi atas pengajaran sastra prosa (cerpen, novel, roman dll.), puisi (elegi, dramatik, satirik, kontemplatif, naratif dll.), dan naskah drama (panggung, sinetron, modern dll.).<br />
Pada makalah saya ini saya hanya akan membicarakan soal pengajaran sastra puisi yang menyangkut masalah penulisan dan pembacaannya. Ini sesuai dengan profesi yang saya tekuni sebagai penulis puisi selama ini.</span></div>
<p><span style="font-size:85%;"></p>
<div>
<strong>Menulis Puisi<br />
</strong>Pengajaran sastra genre puisi bagi siswa memang tidak mudah. Setidaknya bagi para guru yang mengajar bahasa Indonesia, pastilah agak merasa kesulitan dalam pengajarannya. Karena materi pelajaran puisi tidak bisa diajarkan secara gampang seperti pelajaran matematika. Lebih lagi jika gurunya tidak suka akan puisi.<br />
Menulis puisi biasanya berkaitan dengan beberapa hal berikut ini:<br />
1. pencarian ide (ilham);<br />
2. pemilihan tema;<br />
3. penentuan jenis puisi;<br />
4. pemilihan diksi (kata yang padat dan khas);<br />
5. pemilihan permainan bunyi;<br />
6. pembuatan larik yang menarik (tipografi);<br />
7. pemilihan pengucapan;<br />
8. pemanfaatan gaya bahasa;<br />
9. pemilihan judul yang menarik.</p>
<p>Sedangkan pengertian puisi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti ‘membuat’ atau poeisis yang berarti “pembuatan”. Di dalam bahasa Inggris disebut sebagai poem atau poetry. Puisi berarti pembuatan, karena dengan menulis puisi berarti telah menciptakan sebuah dunia. (Sutedjo dan Kasnadi, 2008:1).</p></div>
<div>Pengertian puisi, maka menyiratkan beberapa hal yang penting, antara lain:<br />
1. Puisi merupakan ungkapan pemikiran, gagasan ide, dan ekspresi penyair;<br />
2. Bahasa puisi bersifat konotatif, simbolis, dan lambang; oleh karena itu puisi penuh dengan imaji,</div>
<div>metafora, kias, dengan bahasa figuratif yang estetis;<br />
3. Susunan larik-larik puisi memanfaatkan pertimbangan bunyi dan rima yang maksimal;<br />
4. Dalam penulisan puisi terjadi pemadatan kata dengan berbagai bentuk kekuatan bahasa yang ada;<br />
5. Unsur pembangun puisi mencakup unsur batin dan lahir, sehingga menjadi padu;<br />
6. Bahasa puisi tidak terikat oleh kaidah kebahasaan umumnya, karena itu, ia memiliki kebebasan untuk menyimpang dari kaidah kebahasaan yang ada, bernama licentia poetica.</p>
<p>Sebelum kita mengajarkan bagaimana menulis puisi, seorang guru sebaiknya harus memandang semua para siswanya mepunyai kemampuan yang sama dalam hal penulisan, sehingga para siswa tidak menjadi malas untuk menulis. Harus kita sadari bahwa semua siswa adalah: kreatif, imajinatif, ilusif, jenius, dan komunikatif. Untuk itulah, tantangan yang kita hadapi di depan siswa, bahwa mereka haruslah diajak bersama-sama untuk terlibat dalam mata pelajaran sastra yang kita ajarkan.<br />
Mengawali untuk pelajaran menulis puisi, sebaiknya setiap siswa disuruh untuk membacakan sebuah puisi di depan kelas, secara bergiliran. Dari hasil pembacaan puisi secara bergiliran ini, maka kita akan mendapatkan hasil, bahwa mereka para siswa akan berani tampil didepan kelas, di samping akan mendapatkan vocabulary diksi yang baik dari isi puisi yang ditulis penyair.<br />
Seiring para siswa yang telah mendapatkan banyak vocabulary diksi yang baik tersebut, baru kemudian kita mengajak mereka untuk menuliskan puisi.<br />
Untuk memudahkan dalam penulisan puisi, maka banyak cara yang dapat digunakan dalam konsep pembuatannya:<br />
1. <em>Niteni, nirokne, dan nambahi</em>:<br />
Dalam cara ini, seseorang siswa pada mulanya diajak untuk mengingat-ingat sebuah karya puisi, lantas</div>
<div>disuruh untuk mencoba mencontoh naskah puisi tersebut, dan kemudian diajak untuk menambahi</div>
<div>(mengubah) kata-kata lain yang sesuai dengan kreativitas pikirannnya.<br />
2. <em>Epigonal, aforisme, outbond, dan cinta</em><br />
a. <em>epigonal:</em> cara epigonal ini, seorang disuruh menirukan naskah-naskah puisi yang sudah ada dengan</div>
<div>menambahi sesuai kreativitasnya;<br />
b. <em>aforisme</em>: pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum. contoh</div>
<div>seperti peribahasa: alah bisa karena biasa. Para siswa diajak menulis puisi, berangkat dari peribahasa-</div>
<div>peribahasa yang telah diajarkan guru sebelumnya. Tentunya dalam hal ini, perlu kreativitas</div>
<div>tersendiri bagi siswa;<br />
c. <em>outbond</em>: para siswa diajak di luar sekolah guna mengamati apa saja yang ada di luar sekolah tersebut.</div>
<div>Mereka bisa menulis tentang: daun, pohonan, pengemis, petani, gunung, panas cuaca, hujan atau apa</div>
<div>saja yang mereka temuai di kegiatan outbond tersebut;</div>
<div>d. cinta: cara yang terakhir ini adalah konsep yang barangkali paling mudah bagi para siswa, karena</div>
<div>mereka disuruh menulis puisi berdasarkan cinta. Boleh cinta kepada orang tua, kekasih, alam, tanah</div>
<div>air, dan banyak lagi.<br />
Selain beberapa cara tersebut di atas, maka yang perlu diperhatikan bahwa dalam<br />
penulisan puisi adalah bagaimana para siswa bisa menulis puisi dengan menggunakan ‘kata-kata dasar’ dalam penulisannya. Mengapa demikian? Karena puisi yang baik adalah puisi yang mempunyai sedikit kata, tapi punya banyak makna.<br />
Nah&#8230; sekarang mari kita coba bersama-sama menulis puisi dengan berbagai cara tersebut di atas. Semoga ada hasilnya!</div>
<div>
<strong>Membaca Puisi<br />
</strong>Dunia baca puisi atau poetry reading, sekarang ini sedang banyak digemari oleh kalangan masyrakat. Dari kalangan pelajar yang suka belajar baca puisi untuk kegiatan lomba-lomba, atau untuk kegiatan pentas tujuhbelasan, hingga untuk kegiatan perpisahan di sekolah. Acara baca puisi tidak pernah ketinggalan ikut tampil dalam acara-acara tersebut.<br />
Tapi ternyata, baca puisi, yang termasuk juga dalam kategori membaca indah itu, tidak semudah dilakukan oleh seseorang. Apalagi bagi orang yang awam, dan tak pernah naik panggung. Bagi mereka mungkin sulit, tapi tidak bagi mereka yang sudah terbiasa membacanya.<br />
Sementara itu membaca puisi, selain sebagai jenis membaca indah, juga merupa-kan salah satu kegiatan apresiasi sastra. Apresiasi sastra dapat diartikan sebagai usaha pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap karya sastra, sehingga menimbulkan kegairahan terhadap sastra tersebut. Apresiasi sastra juga dapat menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat pengenalan dan pemahaman terhadap sastra. Sedangkan salah satu bentuk apresiasi sastra adalah dengan cara membaca puisi. Karena dengan membaca puisi seseorang akan dapat kenal dan paham, serta menimbulkan gairah, serta kenikmatan terhadap perilaku kehidupan seseorang.<br />
Mengapa demikian? Karena pembaca akan menangkap keindahan, kemerduan bunyi, serta mungkin pesan-pesan moral yang terdapat dalam sastra, sehingga nurani-nya tersentuh, yang pada akhirnya perilaku kehidupan sehari-hari seseorang tersebut akan juga berubah ke arah yang lebih baik.<br />
Sedangkan untuk menghasilkan pembacaan puisi yang baik dalam suatu performance art ada beberapa syarat, di antaranya adalah:<br />
pertama yang harus dilakukan seorang pembaca puisi adalah mengetahui lebih dulu interpretasi: penafsiran dari isi puisi tersebut, baru kemudian<br />
membacanya.<br />
artikulasi: tekanan kata, yaitu mengucapkan kata secara tepat dan jelas atau pelafalan harus benar;<br />
volume : lemah dan kerasnya suara (usahakan suara asli pembaca dan suara tidak dibuat-buat);<br />
tempo : pengucapan cepat dan lambatnya suara disesuaikan dengan isi puisi;<br />
modulasi : mengubah suara dalam baca puisi;<br />
intonasi : tekanan dan lagu kalimat;<br />
teks puisi: dalam baca puisi, seharusnya teks puisi yang dibaca tidak menutup wajah pembaca, dan bahkan jika</div>
<div>bisa teks tersebut bisa dijadikan alat/sarana akting.<br />
akting : usahakan dalam baca puisi tidak terlalu banyak gerak, sehingga tidak over-acting. Agar memudahkan</div>
<div>anak berlatih bergerak (moving) maka pada bait pertama, anak berada di posisi tengah stage</div>
<div>(panggung), maka pada bait berikutnya ke posisi kanan atau kiri stage. Bisa juga di posisi belakang atau</div>
<div>di depan stage (panggung).<br />
Selain aspek yang telah saya kemukakan di atas, perlu pula seorang pembaca puisi mempunyai penampilan seni atau <em>nyeni </em>(<em>performance-art)</em>, artinya seorang pembaca puisi tidak harus bersikap sempurna seperti tentara akan baris, tapi usahakan juga berakting dengan indah, melalui gerak tangan dan kaki, ekspresi muka, dan lain sebagainya. Lantas mau memanfaatkan stage atau panggung yang ada di sekitarnya.<br />
Dalam hal ini biasanya disebut sebagai teknik menghidupkan suasana atau mood, agar bacanya menjadi <em><strong>intelligible</strong></em> (yang dapat dimengerti, mantap dan meyakin-kan bagi pendengar/audiens), dan <strong><em>audible </em></strong>(dapat didengar dengan jelas pelafalan bacanya) , dan kemudian isi puisi yang disampaibacakan tersebut bisa ditangkap oleh penonton..<br />
Dari uraian di atas, tampaknya membaca puisi memang gampang. Tapi sebenarnya tak semudah yang kita omong-bicarakan. Ayo kita coba baca puisi Ayo kita coba baca puisi, berikut ini naskah puisi <a name="_ftnref3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn3"><span style="font-size:85%;">**</span></a><span style="font-size:85%;">bagi anak-anak SD dan SMP:</span></div>
<p><span style="font-size:85%;"></p>
<div>
aming aminoedhin<br />
<strong>DI MANA MEREKA SEKOLAH</strong></p>
<p>desa temanku tenggelam sudah<br />
tak ada lagi tanaman hijau<br />
tinggal kini terlihat atap-atap rumah<br />
tampak seperti mengigau</p>
<p>igauan suaranya perih<br />
atap-atap rumah seakan merintih<br />
dari lumpur yang membuat hancur<br />
hingga beribu penghuninya kabur</p>
<p>desa temanku tenggelam sudah<br />
aku tak tahu ke mana mereka pindah<br />
di mana mereka kini sekolah</p>
<p>Sidoarjo, 12/2/2008</p></div>
<div>
aming aminoedhin<br />
<strong>AKU LUPA MENGAJI</strong></p>
<p>Pada musim kemarau rumput-rumput di tanah lapang<br />
mengering. Daun di pepohonan kering</p>
<p>Angin terlalu kencang<br />
menerbangkan debu dan layang-layang<br />
layang-layangku nan gagah terbang<br />
diulur panjangnya benang</p>
<p>Hati ini jadi riang<br />
bermain layang-layang<br />
hingga aku lupa<br />
belajar mengaji<br />
di mushola</p>
<p>Barangkali aku berdosa<br />
lantas aku berjanji dalam hati<br />
tak mengulangnya di esok hari</p>
<p>Mojokerto, 1999</p>
<p>aming aminoedhin<br />
<strong>JENDELA DUNIA<br />
</strong><br />
Almari Bapakku dipenuhi buku<br />
kata Ibu, semua buku-buku itu<br />
adalah jendela dunia<br />
jika aku mau baca<br />
segala ilmu akan kusua</p>
<p>Ternyata benar, kata Ibu<br />
selepas buku-buku kubaca<br />
dunia tampak ada di sana<br />
ada yang hitam dan putih<br />
ada yang senang dan sedih</p>
<p>Jadi kawan!<br />
bacalah buku agar kau<br />
bertemu segala ilmu</p>
<p>Baca dan bacalah buku<br />
karena buku adalah jendela dunia<br />
sejuta ilmu pasti kau sua</p>
<p>Mojokerto, 19/10/1999</p>
<p>aming aminoedhin<br />
<strong>BERJAMAAH DI PLAZA</strong></p>
<p>kata seorang kyai, belajar ngaji<br />
adalah amalan yang patut dipuji<br />
dan sholat berjamaah<br />
dapat pahala berkah<br />
berlipat-lipat jumlah</p>
<p>tapi kenapa banyak orang<br />
belajar nyanyi, belajar tari<br />
dan baca puisi?</p>
<p>tapi kenapa banyak orang berjamaah<br />
hanya di plaza-plaza<br />
hamburkan uang berjuta-juta?</p>
<p>adakah ini dapat dipuji, dan<br />
adakah plaza menyimpan pahala<br />
berlipat ganda?</p>
<p>ah… barangkali saja, plaza-plaza<br />
telah jadi berhala baru<br />
yang dipoles gincu<br />
begitu indah<br />
dan banyak orang ikut berjamaah</p>
<p>Surabaya, 1992</p>
<p>aming aminoedhin<br />
<strong>TENTANG BUNGA<br />
</strong><span style="font-size:78%;"><em>* mira aulia alamanda</em></span></p>
<p>bunga-bunga tumbuh di halaman boleh mekar<br />
setiap hari. dan mimpi-mimpi segar<br />
yang terurai seakan bergetar<br />
menabuh hati</p>
<p>dentang suaranya membuka jendela dunia<br />
mendendangkan lagu cinta<br />
menyejuta jumlahnya, merdu terdengar<br />
melebihi suara rebana<br />
melebihi suara biola<br />
melebihi suara vina<a name="_ftnref4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn4"><span style="font-size:85%;">1</span></a><br />
<span style="font-size:85%;">melebihi suara salena</span><a name="_ftnref5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftn5"><span style="font-size:85%;">2</span></a><br />
<span style="font-size:85%;"><br />
bunga-bunga melati kau suka<br />
akan tetap ada. dan kau boleh tak percaya<br />
ia seperti menagih janji kelak kau dewasa<br />
bisa bernyanyi seperti mimpi orang tua<br />
tak hanya melebihi vina dan salena<br />
tapi juga bisa mengaji dan tahu agama<br />
melebihi kyai yang ada di ujung desa</p>
<p>mira, itulah bunga-bunga<br />
yang kau suka. memutih putih suci<br />
mengingatkan kita akan surga<br />
yang kelak kita bersua<br />
bersama keluarga</p>
<p>Desaku Canggu, 18/2/2005</p>
<p>aming aminoedhin<br />
<strong>TELEVISI</p>
<p></strong>kotak kaca ajaib itulah<br />
yang telah menyulap tingkah<br />
anakku pandai<br />
berulah</p>
<p>kotak kaca ajaib itu pula<br />
yang jadi guru<br />
bagi anak-anakku<br />
bertingkah laku<br />
melangkahkan sopan santun<br />
jadi tak beruntun</p>
<p>barangkali kotak kaca ajaib<br />
itu pula, yang<br />
akan jadi orang tua<br />
bagi anak-anak<br />
yang ditinggal ibu-bapak</p>
<p>dan kotak kaca ajaib<br />
menyudutkan kita sholat<br />
dalam lima waktu tak tertib<br />
Surabaya, 1995</p>
<p><strong>NYANYIAN TANAH GARAM</strong><br />
karya: aming aminoedhin</p>
<p>masih seperti tahun-tahun pertama dulu<br />
aku sempat menjamah tanahmu<br />
angin laut demikian keras mendera<br />
dari pantai kamal madura</p>
<p>lelangit sumilak terbuka<br />
biru sebiru rinduku padamu<br />
nelayan terguncang gelombang<br />
bersama ikan-ikan tangkapan dalam perahu</p>
<p>sementara layang-layang terbang<br />
dari tangan anak-anak yang riang<br />
aku termangu berdiri di pantai itu<br />
kemudian ada kenangan lintas di mataku</p>
<p>ternyata kenangan itu telah lama berlalu<br />
namun kukira telah membatu dalam diriku</p>
<p>sebab dera angin laut<br />
kebiruan langit<br />
keterguncangan nelayan<br />
layang-layang yang terbang<br />
seakan baru seminggu berlalu </span></div>
<p><span style="font-size:85%;"></p>
<div>
Surabaya, 1987</p>
<p>Membaca puisi, yang merupakan cabang seni membaca indah, memang tidak mudah. Tapi yang pasti diperlukan latihan-latihan yang lebih intens lagi. Pembaca yang baik, adalah yang sudah terbiasa di atas pentas, sehingga tidak ada lagi kata demam panggung.<br />
Terakhir, bahwa membaca puisi itu ternyata gampang, lantas mengapa kita tak mencoba menulis puisi, kemudian membacakannya sendiri?<br />
Terakhir, selamat mencoba menulis dan membaca puisi! Semoga berhasil!</p></div>
<div>
<em>aming aminoedhin<br />
Desaku Canggu, 11 Maret 2008</p>
<p></em></p>
<p><a name="_ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref1"><span style="font-size:78%;">*</span></a><span style="font-size:78%;"> materi ceramah sastra di depan para guru se-kabupaten bangkalan, 3-4 juni 2008<br />
</span><a name="_ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref2"><span style="font-size:78%;">**</span></a><span style="font-size:78%;"> lebih dikenal dengan nama: aming aminoedhin, penyair<br />
</span><a name="_ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref3"><span style="font-size:78%;">**</span></a><span style="font-size:78%;"> akan termuat di kumpulan “Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu” karya aming aminoedhin<br />
</span><a name="_ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref4"><span style="font-size:78%;">1</span></a><span style="font-size:78%;"> Vina Panduwinata, penyanyi si burung Camar<br />
</span><a name="_ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=612875196390410599#_ftnref5"><span style="font-size:78%;">2</span></a><span style="font-size:78%;"> Salena Jones, penyanyi jazz si negro hitam</span></div>
<div><span style="font-size:78%;"> </span></div>
<div><span style="font-size:78%;"> </span></div>
<div><span style="font-size:78%;"> </span></div>
<div><span style="font-size:78%;"> </span></div>
<div><span style="font-size:78%;"><strong>DAFTAR PUSTAKA<br />
</strong><br />
Alwi, Hasan dkk. 2000. Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi, Jakarta: Pembinaaan<br />
dan Pengembangan Bahasa (Depdiknas)<br />
Aminoedhin, Aming. 2000. Apresiasi Sastra Lewat Baca Puisi, Surabaya: Jurnal<br />
Gentengkali<br />
Endraswara, Suwardi,. 2002. Metode Pengajaran Apresiasi Sastra, Yogyakarta:CV<br />
Radhita Buana<br />
Mohamad, Goenawan. 2007. Sudamala, Seni, dan Beda: Ke Arah Tafsir Lain Tentang<br />
Keindahan(Orasi Budaya) , Surabaya: Fakultas sastra Unair<br />
Nadeak, Wilson. 1985. Pengajaran Apresiasi Puisi, Bandung: CV Sinar Baru<br />
Poerwadarminta, WJS. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PN Balai<br />
Pustaka<br />
Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra, Jakarta: PT Gramedia<br />
Sudikan, Setya Yuwana. 2001. Yuk Rame-rame Nulis Puisi (Makalah Ceramah),<br />
Sidoarjo: Balai Bahasa Surabaya<br />
Sutedjo dkk. 2008. Kajian Puisi, Ponorogo: STKIP PGRI Ponorogo<br />
Tjahjono, Tengsoe. 2000. Membidik Bumi Puisi, Surabaya: Penerbit Sanggar Kalima</span></div>
<p></span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dalharindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dalharindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dalharindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dalharindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dalharindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dalharindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dalharindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dalharindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dalharindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dalharindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dalharindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dalharindo.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dalharindo.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dalharindo.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=9&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/30/pengajaran-sastra-puisi-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9571f295c1b06c611c78e99a2ae26393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dalharindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Seharusnya Mengajar Bahasa Indonesia</title>
		<link>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/30/bagaimana-seharusnya-mengajar-bahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/30/bagaimana-seharusnya-mengajar-bahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 05:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dalharindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dalharindo.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini pelajaran bahasa Indonesia kurang disukai oleh siswa. Ada anggapan bahwa pelajaran bahasa Indonesia pelajaran yang membosankan, materi selalu sama dari jenjang SMP sampai dengan jenjang SMA, pengajarannya selalu monoton. Oleh karena itu perlu ada kreativitas guru bahasa Indonesia untuk menghilangkan anggapan tersebut. Menurut penulis ada beberapa hal yang harus dimiliki guru bahasa Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=5&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini pelajaran bahasa Indonesia kurang disukai oleh siswa. Ada anggapan bahwa pelajaran bahasa Indonesia pelajaran yang membosankan, materi selalu sama dari jenjang SMP sampai dengan jenjang SMA, pengajarannya selalu monoton. Oleh karena itu perlu ada kreativitas guru bahasa Indonesia untuk menghilangkan anggapan tersebut.</p>
<p>Menurut penulis ada beberapa hal yang harus dimiliki guru bahasa Indonesia agar pelajaran bahasa Indonesia terlepas dari anggapan di atas dan mampu menarik perhatian siswa antara lain</p>
<p>1. Guru bahasa Indonesia harus benar-benar menguasai kurikulum dan  silabus.</p>
<p>Penguasaan kurikulum dan silabus ini mutlak bagi guru bahasa Indonesia sebab tanpa penguasaan dua hal itu pengajaran bahasa Indonesia tidak terarah yang akhirnya guru bahasa Indonesia akan terkesan asal mengajar.</p>
<p>2. Guru bahasa Indonesia harus benar-benar menguasai metode dan teknik mengajar.</p>
<p>Penguasaan metode dan teknik mengajar ini akan lebih memudahkan guru bahasa Indonesia mencapai tujuan  dari      pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini guru harus benar-benar tepat memilih metode dan teknik yang sesuai dengan SK dan KD dalam KTSP.</p>
<p>3. Guru bahasa Indonesia harus menguasai materi dan materi yang disajikan selalu aktual dan faktual.</p>
<p>Penguasaan materi adalah hal yang mutlak bagi guru. Apabila seorang guru tidak menguasai materi, materi yang disampaikan kepada  siswa tentu tidak dapat diterima dengan baik.  Selain penguasaan materi, guru, khususnya guru bahasa Indonesia,harus menyajikan materi yang selalu aktual dan faktual sehingga siswa merasa mendapat sesuatu yang baru dari pembelajaran bahasa Indonesia.</p>
<p>4. Pembuatan alat evaluasi yang menarik dan menantang siswa.</p>
<p>Alat evaluasi yang menarik dan menantang siswa akan memotivasi siswa untuk belajar lebih tekun dan lebih jauh cakupan materinya.</p>
<p>5. Penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran.</p>
<p>Pembelajaran bahasa Indonesia selama ini selalu identik dengan di depan kelas dan konvensional. Pelaksanaan pemembelajaran di depan kelas dan  konvensional mungkin akan  membosankan. Oleh karena itu, penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia akan mengubah stigma bahwa bahasa Indonesia sebuah pelajaran yang monoton, sulit berubah pola pengajarannya dan materi, dan yang pasti anak akan lebih menarik dan menyenangkan bila pembelajarannya menggunakan teknologi informasi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dalharindo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dalharindo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dalharindo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dalharindo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dalharindo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dalharindo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dalharindo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dalharindo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dalharindo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dalharindo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dalharindo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dalharindo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dalharindo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dalharindo.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=5&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/30/bagaimana-seharusnya-mengajar-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9571f295c1b06c611c78e99a2ae26393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dalharindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Indonesia adalah Pelajaran yang Sering Diremehkan</title>
		<link>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/02/bahasa-indonesia-adalah-pelajaran-yang-sering-diremehkan/</link>
		<comments>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/02/bahasa-indonesia-adalah-pelajaran-yang-sering-diremehkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 03:24:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dalharindo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dalharindo.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran bahasa Indonesia oleh siswa sering dipandang sebelah mata. Hal ini karena siswa belum memahami beberapa hal yaitu kurang memahami fungsi bahasa, jarang mengaplikasikan teori yang diterima dalam hidup keseharian, dan hakikat bahasa<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=3&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pelajaran bahasa Indonesia oleh siswa sering dipandang sebelah mata. Hal ini karena siswa belum memahami beberapa hal yaitu kurang memahami fungsi bahasa, jarang mengaplikasikan teori  yang diterima dalam hidup keseharian, dan hakikat bahasa</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dalharindo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dalharindo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dalharindo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dalharindo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dalharindo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dalharindo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dalharindo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dalharindo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dalharindo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dalharindo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dalharindo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dalharindo.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dalharindo.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dalharindo.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dalharindo.wordpress.com&amp;blog=9284591&amp;post=3&amp;subd=dalharindo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dalharindo.wordpress.com/2009/09/02/bahasa-indonesia-adalah-pelajaran-yang-sering-diremehkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9571f295c1b06c611c78e99a2ae26393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dalharindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
