PENGAJARAN SASTRA PUISI DI SEKOLAH *

30 September 2009 at 06:09 (Tak Berkategori)

Selasa, 2008 Agustus 26

pengajaran sastra puisi


Oleh: M. Amir Tohar**

Berbicara soal pengajaran sastra di sekolah maka tujuan yang harus dicapai ada-lah siswa mampu menikmati, menghayati, memamahi, dan memanfaatkan karya sastra; untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkat-kan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Di samping itu, secara khusus, siswa menguasai dan membedakan antara karya sastra berbentuk prosa, naskah drama, dan puisi. (B.Rahmanto, 2000:654).
Berangkat dari persoalan ini, maka pengajaran sastra Indonesia bertujuan sangat mulia, dan sangatlah penting bagi para siswa. Persoalannya sekarang bahwa pengajaran sastra Indonesia di sekolah, berada (atau dimasukkan) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga, kemungkinan besar, pelajaran sastra tidak begitu banyak diajarkan kepada siswa, karena lebih menekankan pelajaran tata bahasa. Lebih lagi, apabila gurunya tidak suka akan sastra maka pelajaran sastra akan dilewatinya. Sungguh ironis, tentunya! Padahal tujuan pengajaran sastra sangat mulia seperti yang saya sebutkan di muka.
Dalam pengajaran sastra, terbagi atas pengajaran sastra prosa (cerpen, novel, roman dll.), puisi (elegi, dramatik, satirik, kontemplatif, naratif dll.), dan naskah drama (panggung, sinetron, modern dll.).
Pada makalah saya ini saya hanya akan membicarakan soal pengajaran sastra puisi yang menyangkut masalah penulisan dan pembacaannya. Ini sesuai dengan profesi yang saya tekuni sebagai penulis puisi selama ini.

Menulis Puisi
Pengajaran sastra genre puisi bagi siswa memang tidak mudah. Setidaknya bagi para guru yang mengajar bahasa Indonesia, pastilah agak merasa kesulitan dalam pengajarannya. Karena materi pelajaran puisi tidak bisa diajarkan secara gampang seperti pelajaran matematika. Lebih lagi jika gurunya tidak suka akan puisi.
Menulis puisi biasanya berkaitan dengan beberapa hal berikut ini:
1. pencarian ide (ilham);
2. pemilihan tema;
3. penentuan jenis puisi;
4. pemilihan diksi (kata yang padat dan khas);
5. pemilihan permainan bunyi;
6. pembuatan larik yang menarik (tipografi);
7. pemilihan pengucapan;
8. pemanfaatan gaya bahasa;
9. pemilihan judul yang menarik.

Sedangkan pengertian puisi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti ‘membuat’ atau poeisis yang berarti “pembuatan”. Di dalam bahasa Inggris disebut sebagai poem atau poetry. Puisi berarti pembuatan, karena dengan menulis puisi berarti telah menciptakan sebuah dunia. (Sutedjo dan Kasnadi, 2008:1).

Pengertian puisi, maka menyiratkan beberapa hal yang penting, antara lain:
1. Puisi merupakan ungkapan pemikiran, gagasan ide, dan ekspresi penyair;
2. Bahasa puisi bersifat konotatif, simbolis, dan lambang; oleh karena itu puisi penuh dengan imaji,
metafora, kias, dengan bahasa figuratif yang estetis;
3. Susunan larik-larik puisi memanfaatkan pertimbangan bunyi dan rima yang maksimal;
4. Dalam penulisan puisi terjadi pemadatan kata dengan berbagai bentuk kekuatan bahasa yang ada;
5. Unsur pembangun puisi mencakup unsur batin dan lahir, sehingga menjadi padu;
6. Bahasa puisi tidak terikat oleh kaidah kebahasaan umumnya, karena itu, ia memiliki kebebasan untuk menyimpang dari kaidah kebahasaan yang ada, bernama licentia poetica.

Sebelum kita mengajarkan bagaimana menulis puisi, seorang guru sebaiknya harus memandang semua para siswanya mepunyai kemampuan yang sama dalam hal penulisan, sehingga para siswa tidak menjadi malas untuk menulis. Harus kita sadari bahwa semua siswa adalah: kreatif, imajinatif, ilusif, jenius, dan komunikatif. Untuk itulah, tantangan yang kita hadapi di depan siswa, bahwa mereka haruslah diajak bersama-sama untuk terlibat dalam mata pelajaran sastra yang kita ajarkan.
Mengawali untuk pelajaran menulis puisi, sebaiknya setiap siswa disuruh untuk membacakan sebuah puisi di depan kelas, secara bergiliran. Dari hasil pembacaan puisi secara bergiliran ini, maka kita akan mendapatkan hasil, bahwa mereka para siswa akan berani tampil didepan kelas, di samping akan mendapatkan vocabulary diksi yang baik dari isi puisi yang ditulis penyair.
Seiring para siswa yang telah mendapatkan banyak vocabulary diksi yang baik tersebut, baru kemudian kita mengajak mereka untuk menuliskan puisi.
Untuk memudahkan dalam penulisan puisi, maka banyak cara yang dapat digunakan dalam konsep pembuatannya:
1. Niteni, nirokne, dan nambahi:
Dalam cara ini, seseorang siswa pada mulanya diajak untuk mengingat-ingat sebuah karya puisi, lantas

disuruh untuk mencoba mencontoh naskah puisi tersebut, dan kemudian diajak untuk menambahi
(mengubah) kata-kata lain yang sesuai dengan kreativitas pikirannnya.
2. Epigonal, aforisme, outbond, dan cinta
a. epigonal: cara epigonal ini, seorang disuruh menirukan naskah-naskah puisi yang sudah ada dengan
menambahi sesuai kreativitasnya;
b. aforisme: pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum. contoh
seperti peribahasa: alah bisa karena biasa. Para siswa diajak menulis puisi, berangkat dari peribahasa-
peribahasa yang telah diajarkan guru sebelumnya. Tentunya dalam hal ini, perlu kreativitas
tersendiri bagi siswa;
c. outbond: para siswa diajak di luar sekolah guna mengamati apa saja yang ada di luar sekolah tersebut.
Mereka bisa menulis tentang: daun, pohonan, pengemis, petani, gunung, panas cuaca, hujan atau apa
saja yang mereka temuai di kegiatan outbond tersebut;
d. cinta: cara yang terakhir ini adalah konsep yang barangkali paling mudah bagi para siswa, karena
mereka disuruh menulis puisi berdasarkan cinta. Boleh cinta kepada orang tua, kekasih, alam, tanah
air, dan banyak lagi.
Selain beberapa cara tersebut di atas, maka yang perlu diperhatikan bahwa dalam
penulisan puisi adalah bagaimana para siswa bisa menulis puisi dengan menggunakan ‘kata-kata dasar’ dalam penulisannya. Mengapa demikian? Karena puisi yang baik adalah puisi yang mempunyai sedikit kata, tapi punya banyak makna.
Nah… sekarang mari kita coba bersama-sama menulis puisi dengan berbagai cara tersebut di atas. Semoga ada hasilnya!
Membaca Puisi
Dunia baca puisi atau poetry reading, sekarang ini sedang banyak digemari oleh kalangan masyrakat. Dari kalangan pelajar yang suka belajar baca puisi untuk kegiatan lomba-lomba, atau untuk kegiatan pentas tujuhbelasan, hingga untuk kegiatan perpisahan di sekolah. Acara baca puisi tidak pernah ketinggalan ikut tampil dalam acara-acara tersebut.
Tapi ternyata, baca puisi, yang termasuk juga dalam kategori membaca indah itu, tidak semudah dilakukan oleh seseorang. Apalagi bagi orang yang awam, dan tak pernah naik panggung. Bagi mereka mungkin sulit, tapi tidak bagi mereka yang sudah terbiasa membacanya.
Sementara itu membaca puisi, selain sebagai jenis membaca indah, juga merupa-kan salah satu kegiatan apresiasi sastra. Apresiasi sastra dapat diartikan sebagai usaha pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap karya sastra, sehingga menimbulkan kegairahan terhadap sastra tersebut. Apresiasi sastra juga dapat menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat pengenalan dan pemahaman terhadap sastra. Sedangkan salah satu bentuk apresiasi sastra adalah dengan cara membaca puisi. Karena dengan membaca puisi seseorang akan dapat kenal dan paham, serta menimbulkan gairah, serta kenikmatan terhadap perilaku kehidupan seseorang.
Mengapa demikian? Karena pembaca akan menangkap keindahan, kemerduan bunyi, serta mungkin pesan-pesan moral yang terdapat dalam sastra, sehingga nurani-nya tersentuh, yang pada akhirnya perilaku kehidupan sehari-hari seseorang tersebut akan juga berubah ke arah yang lebih baik.
Sedangkan untuk menghasilkan pembacaan puisi yang baik dalam suatu performance art ada beberapa syarat, di antaranya adalah:
pertama yang harus dilakukan seorang pembaca puisi adalah mengetahui lebih dulu interpretasi: penafsiran dari isi puisi tersebut, baru kemudian
membacanya.
artikulasi: tekanan kata, yaitu mengucapkan kata secara tepat dan jelas atau pelafalan harus benar;
volume : lemah dan kerasnya suara (usahakan suara asli pembaca dan suara tidak dibuat-buat);
tempo : pengucapan cepat dan lambatnya suara disesuaikan dengan isi puisi;
modulasi : mengubah suara dalam baca puisi;
intonasi : tekanan dan lagu kalimat;
teks puisi: dalam baca puisi, seharusnya teks puisi yang dibaca tidak menutup wajah pembaca, dan bahkan jika
bisa teks tersebut bisa dijadikan alat/sarana akting.
akting : usahakan dalam baca puisi tidak terlalu banyak gerak, sehingga tidak over-acting. Agar memudahkan
anak berlatih bergerak (moving) maka pada bait pertama, anak berada di posisi tengah stage
(panggung), maka pada bait berikutnya ke posisi kanan atau kiri stage. Bisa juga di posisi belakang atau
di depan stage (panggung).
Selain aspek yang telah saya kemukakan di atas, perlu pula seorang pembaca puisi mempunyai penampilan seni atau nyeni (performance-art), artinya seorang pembaca puisi tidak harus bersikap sempurna seperti tentara akan baris, tapi usahakan juga berakting dengan indah, melalui gerak tangan dan kaki, ekspresi muka, dan lain sebagainya. Lantas mau memanfaatkan stage atau panggung yang ada di sekitarnya.
Dalam hal ini biasanya disebut sebagai teknik menghidupkan suasana atau mood, agar bacanya menjadi intelligible (yang dapat dimengerti, mantap dan meyakin-kan bagi pendengar/audiens), dan audible (dapat didengar dengan jelas pelafalan bacanya) , dan kemudian isi puisi yang disampaibacakan tersebut bisa ditangkap oleh penonton..
Dari uraian di atas, tampaknya membaca puisi memang gampang. Tapi sebenarnya tak semudah yang kita omong-bicarakan. Ayo kita coba baca puisi Ayo kita coba baca puisi, berikut ini naskah puisi **bagi anak-anak SD dan SMP:

aming aminoedhin
DI MANA MEREKA SEKOLAH

desa temanku tenggelam sudah
tak ada lagi tanaman hijau
tinggal kini terlihat atap-atap rumah
tampak seperti mengigau

igauan suaranya perih
atap-atap rumah seakan merintih
dari lumpur yang membuat hancur
hingga beribu penghuninya kabur

desa temanku tenggelam sudah
aku tak tahu ke mana mereka pindah
di mana mereka kini sekolah

Sidoarjo, 12/2/2008

aming aminoedhin
AKU LUPA MENGAJI

Pada musim kemarau rumput-rumput di tanah lapang
mengering. Daun di pepohonan kering

Angin terlalu kencang
menerbangkan debu dan layang-layang
layang-layangku nan gagah terbang
diulur panjangnya benang

Hati ini jadi riang
bermain layang-layang
hingga aku lupa
belajar mengaji
di mushola

Barangkali aku berdosa
lantas aku berjanji dalam hati
tak mengulangnya di esok hari

Mojokerto, 1999

aming aminoedhin
JENDELA DUNIA

Almari Bapakku dipenuhi buku
kata Ibu, semua buku-buku itu
adalah jendela dunia
jika aku mau baca
segala ilmu akan kusua

Ternyata benar, kata Ibu
selepas buku-buku kubaca
dunia tampak ada di sana
ada yang hitam dan putih
ada yang senang dan sedih

Jadi kawan!
bacalah buku agar kau
bertemu segala ilmu

Baca dan bacalah buku
karena buku adalah jendela dunia
sejuta ilmu pasti kau sua

Mojokerto, 19/10/1999

aming aminoedhin
BERJAMAAH DI PLAZA

kata seorang kyai, belajar ngaji
adalah amalan yang patut dipuji
dan sholat berjamaah
dapat pahala berkah
berlipat-lipat jumlah

tapi kenapa banyak orang
belajar nyanyi, belajar tari
dan baca puisi?

tapi kenapa banyak orang berjamaah
hanya di plaza-plaza
hamburkan uang berjuta-juta?

adakah ini dapat dipuji, dan
adakah plaza menyimpan pahala
berlipat ganda?

ah… barangkali saja, plaza-plaza
telah jadi berhala baru
yang dipoles gincu
begitu indah
dan banyak orang ikut berjamaah

Surabaya, 1992

aming aminoedhin
TENTANG BUNGA
* mira aulia alamanda

bunga-bunga tumbuh di halaman boleh mekar
setiap hari. dan mimpi-mimpi segar
yang terurai seakan bergetar
menabuh hati

dentang suaranya membuka jendela dunia
mendendangkan lagu cinta
menyejuta jumlahnya, merdu terdengar
melebihi suara rebana
melebihi suara biola
melebihi suara vina1
melebihi suara salena2

bunga-bunga melati kau suka
akan tetap ada. dan kau boleh tak percaya
ia seperti menagih janji kelak kau dewasa
bisa bernyanyi seperti mimpi orang tua
tak hanya melebihi vina dan salena
tapi juga bisa mengaji dan tahu agama
melebihi kyai yang ada di ujung desa

mira, itulah bunga-bunga
yang kau suka. memutih putih suci
mengingatkan kita akan surga
yang kelak kita bersua
bersama keluarga

Desaku Canggu, 18/2/2005

aming aminoedhin
TELEVISI

kotak kaca ajaib itulah
yang telah menyulap tingkah
anakku pandai
berulah

kotak kaca ajaib itu pula
yang jadi guru
bagi anak-anakku
bertingkah laku
melangkahkan sopan santun
jadi tak beruntun

barangkali kotak kaca ajaib
itu pula, yang
akan jadi orang tua
bagi anak-anak
yang ditinggal ibu-bapak

dan kotak kaca ajaib
menyudutkan kita sholat
dalam lima waktu tak tertib
Surabaya, 1995

NYANYIAN TANAH GARAM
karya: aming aminoedhin

masih seperti tahun-tahun pertama dulu
aku sempat menjamah tanahmu
angin laut demikian keras mendera
dari pantai kamal madura

lelangit sumilak terbuka
biru sebiru rinduku padamu
nelayan terguncang gelombang
bersama ikan-ikan tangkapan dalam perahu

sementara layang-layang terbang
dari tangan anak-anak yang riang
aku termangu berdiri di pantai itu
kemudian ada kenangan lintas di mataku

ternyata kenangan itu telah lama berlalu
namun kukira telah membatu dalam diriku

sebab dera angin laut
kebiruan langit
keterguncangan nelayan
layang-layang yang terbang
seakan baru seminggu berlalu

Surabaya, 1987

Membaca puisi, yang merupakan cabang seni membaca indah, memang tidak mudah. Tapi yang pasti diperlukan latihan-latihan yang lebih intens lagi. Pembaca yang baik, adalah yang sudah terbiasa di atas pentas, sehingga tidak ada lagi kata demam panggung.
Terakhir, bahwa membaca puisi itu ternyata gampang, lantas mengapa kita tak mencoba menulis puisi, kemudian membacakannya sendiri?
Terakhir, selamat mencoba menulis dan membaca puisi! Semoga berhasil!

aming aminoedhin
Desaku Canggu, 11 Maret 2008

* materi ceramah sastra di depan para guru se-kabupaten bangkalan, 3-4 juni 2008
** lebih dikenal dengan nama: aming aminoedhin, penyair
** akan termuat di kumpulan “Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu” karya aming aminoedhin
1 Vina Panduwinata, penyanyi si burung Camar
2 Salena Jones, penyanyi jazz si negro hitam

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2000. Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi, Jakarta: Pembinaaan
dan Pengembangan Bahasa (Depdiknas)
Aminoedhin, Aming. 2000. Apresiasi Sastra Lewat Baca Puisi, Surabaya: Jurnal
Gentengkali
Endraswara, Suwardi,. 2002. Metode Pengajaran Apresiasi Sastra, Yogyakarta:CV
Radhita Buana
Mohamad, Goenawan. 2007. Sudamala, Seni, dan Beda: Ke Arah Tafsir Lain Tentang
Keindahan(Orasi Budaya) , Surabaya: Fakultas sastra Unair
Nadeak, Wilson. 1985. Pengajaran Apresiasi Puisi, Bandung: CV Sinar Baru
Poerwadarminta, WJS. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PN Balai
Pustaka
Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra, Jakarta: PT Gramedia
Sudikan, Setya Yuwana. 2001. Yuk Rame-rame Nulis Puisi (Makalah Ceramah),
Sidoarjo: Balai Bahasa Surabaya
Sutedjo dkk. 2008. Kajian Puisi, Ponorogo: STKIP PGRI Ponorogo
Tjahjono, Tengsoe. 2000. Membidik Bumi Puisi, Surabaya: Penerbit Sanggar Kalima

1 Komentar

  1. dalharindo said,

    ok. semoga kita senantiasa berbagi ilmu untuk semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: