STRATEGI PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

6 Juli 2010 at 04:48 (Tak Berkategori)

Pengantar

 

Ilmu adalah pengetahuan yang rasional dan didukung dengan bukti yang empiris dan memiliki dua bentuk yang menjadi ciri khasnya yaitu paradigma dan metode. Dalam hal paradigma dan metode ini ilmu selalu berorientasi pada logika dan  berkaitan dengan  cara berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah selalu berhubungan dengan teknik, urutan/alur ilmiah,  metode, pendekatan, dan lain-lain yang berkaitan dengan menarik simpulan deduktif dan induktif.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang secara  progresif dan cepat. Perkembangan suatu disiplin ilmu ternyata melibatkan disiplin ilmu yang lain. Hal ini menandakan bahwa antardisiplin ilmu adanya saling kait dan saling memerlukan. Hal ini dapat kita lihat dari contoh kecil yang ada di sekitar kita; suatu hasil penemuan bidang teknologi seperti penemuan computer semakin lama semakin berkembang dan dalam hal pemasaran hasil teknologi ini perlu disiplin ilmu yang lain seperti ilmu ekonomi, dan juga pada saat pemasaran juga kita perlu mengetahui sosial budaya masyarakat target pemasaran. Hal ini membuktikan bahwa suatu disiplin ilmu tidak dapat berdiri sendiri. Selaras dengan itu, Koento Wibisono (1984) mengatakan adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.

Dan perlu kita ketahui bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh pemikiran filsafat barat  sehingga kadangkala hasil sebuah pengembangan teori atau produk dari aplikasi teori ilmu pengetahuan  belum dapat diterima oleh semua kalangan.

Dari kedua paragraf di atas, kita dapat menarik tiga bagian berbeda yang berperan, yaitu penemu, pengembang ilmu, innovator yang istilah-istilah tersebut bermuara pada  kata  pemikir, yang kedua adalah produsen dari hasil penemuan para inovator; dan yang ketiga adalah penikmat hasil temuan, pengguna, atau  konsumen. Ketiga bagian tersebut sama-sama berkaitan dalam hal pemanfaatan ilmu pengetahuan.

Oleh karena ada tiga bagian yang berbeda, ditambah dengan latar belakang para pengembang ilmu pengetahuan, produsen, dan pengguna hasil temuan yang berbeda, memunculkan adanya kenyataan bahwa sebuah perkembangan ilmu pengetahuan belum tentu dapat diterima oleh semua kalangan. Padahal menurut Wahyu, dalam makalahnya dikatakan ilmu mempunyai beberapa kegunaan yaitu

  1. sebagai alat eksplanasi, yaitu ilmu digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala
  2. sebagai alat peramal, yaitu ilmu dapat digunakan sebagai alat untuk meramal penyebab terjadinya gejala-gejala tersebut,
  3. sebagai alat control, yaitu ilmu dapat digunakan sebagai pencegah terjadinya gejala-gejala yang tidak diharapkan atau gejala yang memang diharapkan.

Dari uraian di atas , perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu memikirkan strategi yang tepat  agar hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dapat diterima dan bermanfaat bagi semua pihak.  Inilah permasalahan yang akan dibahas oleh penulis. Bagaimana strategi yang tepat untuk pengembangan ilmu pengetahuan?

Pembahasan

Strategi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada empat pengertian, namun pengertian yang keempat yang penulis rasa sesuai dengan konteks pembahasan dalam makalah ini yaitu rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

Berbicara tentang strategi pengembangan ilmu ini Koento Wibisono (1982:13) mengelompokkan menjadi 3 macam pendapat:

Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu berkembang dalam otonomi dan tetutup, dalam arti pengaruh konteks dibatasi atau bahkan disingkirkan. “Science for sake of science only” merupakan semboyan yang didengungkan.

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu lebur dalam konteks, tidak hanya memberikan refleksi, bahkan juga memberi justifikasi. Dengan ini ilmu cendrung memasuki kawasan untuk menjadikan dirinya sebagai ideologi.

Ketiga, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu dan konteks saling meresapi dan saling memberi pengaruh untuk menjaga agar dirinya beserta temuan-temuannya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dan aktualitasnya. “Science for sake of human progress” adalah pendiriannya.

Dari ketiga strategi di atas , semua tepat apabila disesuaikan dengan  kondisi dan situasi di mana ilmu pengetahuan itu berada. Artinya, strategi pernbangunan ilmu pengetahuan (dan teknologi) tidak dapat dilepaskan dari garis politik pemba­ngunan suatu daerah. Hal tersebut dapat dijabar bahwa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kita harus mempertimbangkan dua hal yaitu visi dan falsafah/ideologi daerah tersebut serta visi dan praksis (praktik dalam bidang kehidupan dan kegiatan praktis manusia).

Namun, dari ketiga pendapat ini  pendapat yang  ketiga yang mampu membangkitkan gairah keilmuan, karena strategi yang digunakan punya  hubungan yang sangat erat  untuk memperkaya muatan-muatan  keilmuan sesuai dengan kemajuan  dan kekinian ilmu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat  sehingga dari sini tak dapat diletakkan urgensi untuk mengembangkan ilmu yang tidak sekedar teori-teori belaka, tapi juga realisasi teori dalam praktik dan hasil-hasil yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Artinya di sini bahwa ada nilai-nilai yang menjadi muatan suatu ilmu bisa berkembang dan bermanfaat.

Selain itu, Wahyu dalam makalahnya mengatakan bahwa ilmu harus berada di atas pusat kekuasaan pemerintah karena ilmu harus mengabdi pada kebaikan, kemajuan, atau kebahagiaan umat manusia. Ditambahkan pula, ilmu di Indonesia tidak bebas nilai, melainkan harus berdasarkan metafisis, epistimologi, dan aksiologi; ilmu harus berdasarkan filsafat; dan ilmu dalam perkembangangannya harus berdimensi religious.

Dengan demikian boleh dikatakan, selain ketiga strategi dan bagaimana strtegi ilmu harus berkembang  di atas,  perkembangan ilmu pengetahuan juga harus mempertimbangkan bahkan harus mempunyai tanggung jawab sosial sehingga  perkembangan ilmu pengetahuan tidak secara membabi buta tanpa mempertimbangkan idiologi, hukum, adat istiadat, nilai kearifan lokal, dan lain-lain yang ada di suatu daerah di mana ilmu pengetahuan itu berkembang. Seperti pepatah mengatakan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung jua.

Kesimpulan

Dari uraian tersebut di atas tampak jelas bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak diatur dengan nilai justru dapat membawa hal yang merugikan bagi pengguna ilmu pengetahuan tersebut.  Oleh karena itulah dalam perkembangannya ilmu pengetahuan perlu memperhatikan empat strategi yaitu ilmu berkembang dalam otonomi dan tetutup, ilmu lebur dalam konteks, ilmu dan konteks saling meresapi dan saling memberi pengaruh untuk menjaga agar dirinya beserta temuan-temuannya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dan aktualitasnya, dan perkembangan ilmu pengetahuan juga harus mempertimbangkan bahkan harus di atas kekuasaan pemerintah, tidak bebas nilai, berdasarkan filsafat, dan mempunyai tanggung jawab sosial.

selesai

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K., 1987., “Panorama Filsafat Modern”,Gramedia: Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.

Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu

Pengetahuan”, Intan Pariwara:Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.

Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Aktualitasnya Dalam Upaya

Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”,Fakultas Pasca Sarjana

UGM Yogyakarta p.3, 14-16.

Burhanuddin,Salam, 1995. Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara,
Jujun S. Sumiasumantri (ed), 1985. Ilmu dalam Prespektif, Jakarta: Gramedia, cet. 6

Wahyu, 2005. Strategi Pengembangan Ilmu di Indonesia(kumpilan makalah). Banjarmasin:

Universitas Lambung Mangkurat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: